Mengapa terus jua mengejar ramalan masa depan serta meletihkan otak untuk kebingungan sia-sia? Tinggalkan kecemasan, biarkan rencana Allah menjadi rahasia-Nya semata – Dia mengatur semua tanpa harus menanyakan pandapatmu. – Omar khayyam, The Rubaiyyat dalam Three cups of tea, Mizan -
“Kalau kau ingin berhasil di Balistan, kau harus menghargai cara-cara kami,” ujar Haji Ali…. “Kali pertama kau minum teh bersama seorang Balti, kau masih orang asing. Kedua kalinya kau minum teh, kau adalah tamu yang dihormati. Kali ketiga kau berbagi semangkuk teh, kau sudah menjadi keluarga, dan untuk keluarga kami, kami bersedia untuk melakukan apa saja, bahkan untuk mati sekalipun”. Haji Ali mengajari dokter Greg Mortenson untuk berbagi tiga cangkir teh, untuk bergerak perlahan, menjadikan persahabatan sama pentingnya dengan membangun proyek.
Ketika Haji Mehdi, seorang yang suka memamerkan diri sebagai orang yang taat beragama tetapi menjalankan seluruh kegiatan ekonomi Lembah Braldu seperti seorang bos mafia, datang menemui Haji Ali dan Mortenson, Haji Mehdi menyalak,”Allah melarang pendidikan bagi anak perempuan! Dan aku melarang pembangunan sekolah ini.”…. “Kalau kau tetap mempertahankan sekolah kafirmu, kau harus membayar,” ujar Mehdi. “Aku menuntut dua belas ekor domba jantan terbesar milikmu.”
Haji Ali, memunggungi Mehdi, guna menekankan betapa orang tersebut telah merendahkan dirinya sendiri dengan menuntut uang suap….. “Jangan bersedih,” ujar Haji Ali. “Lama setelah domba-domba jantan itu mati dan dimakan, sekolah ini masih akan terus berdiri. Haji Mehdi punya makanan hari ini. Tetapi sekarang, anak-anak kita akan memiliki pendidikan, untuk selama-lamanya”.
“Aku telah menyadari bahwa dunia ini luas sekali dan aku baru melihat sedikit saja”, ujar Shakeela, perempuan Lembah Hushe pertama yang berpendidikan.
“Kalau Anda mendidik anak-anak lelaki, begitu selesai sekolah mereka cenderung untuk pergi meninggalkan kampung dan mencari pekerjaan di kota,” jelas Mortenson. “Tetapi, gadis-gadis tetap tinggal di rumah, menjadi pemimpin di tengah masyarakatnya, dan menyebarkan pengetahuan mereka. Kalau Anda benar-benar ingin mengubah suatu budaya dan pola pikir, memberdayakan kaum perempuan, memperbaiki tingkat kesehatan dan higienitas, serta menurunkan angka kematian bayi, maka jawabannya adalah mendidik anak-anak gadis”.
“Apa yang kita coba lakukan mungkin saja hanya berupa setetes air dalam samudra, namun samudra takkan lengkap tanpa tetesan yang satu itu,” ujar Mortenson.
Kisahnya adalah sebuah petualangan seru sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.
Selamat membaca
*essencehoney*




Si kecil sudah bisa “menghias” rumah dengan gambar2 cantik…. Gak pintu, gak dinding, gak kulkas, gak lemari, kursi, lantai, kasur (seprei)…. rame deh pokoknya…. jadi tambah semarak dan sudah hafal lagu-lagu. Ira seneng nyanyi. Lagu yang sudah hafal a.l Burung Kakaktua, Ambilkan Bulan Bu, Nina Bobo, Balonku ada Lima, Tik Tik Tik Bunyi Hujan, Pelangi-Pelangi, Kupu-Kupu yang Lucu, dan lain-lain. Selain itu, permainan yang paling digemari adalah petak umpet (salah satu lagu yang dia senangi adalah Hide and Seek…). “Papa, Hide and Seek, Hide and Seek”, begitu celotehnya. Pulang kerja masih kumel, belum cuci tangan dan ganti baju langsung… “let’s play hide and seek”…. hi…hi…

