Buku “Indonesia Mengajar” yang diterbitkan oleh Mizan ikut menemani saya menutup tahun 2011. Buku ini berisi kumpulan cerita-cerita pengalaman pengajar muda yang mengikuti program yang di canangkan Bapak Anies Baswedan dengan membawa misi “setahun mengajar seumur hidup menginspirasi”. Ketika pendidikan belum bisa dirasakan memadai oleh seluruh anak Indonesia terutama di pelosok-pelosok Indonesia, ide ini sangat brilliant, setidaknya itu pendapat saya…. Dan ketika berjalan-jalan di Blok M saya mampir ke toko buku dan ketika melihat buku yang diterbitkan atas dasar program tersebut saya langsung tertarik untuk membacanya.
Saya sangat tertarik untuk mengetahui pengalaman para pengajar-pengajar muda di berbagai pelosok di Indonesia. Menjadi pengajar apalagi pendidik tidaklah mudah. Pengalaman mereka bukan tanpa hambatan…. namun intelektual dan kreativitas serta ketulusan mereka mampu merangkul dan menginspirasi anak-anak masa depan bangsa…… bahkan menginspirasi ‘kita’ yang sudah menjalankan profesi di bidang pendidikan….. Ketertarikan saya tidak hanya karena saya memang tertarik dengan program tersebut (ketika program ini di launching, keinginan untuk berpartisipasi ada tapi umurnya udah kelebihan banyak… dan sulit untuk meninggalkan si kecil :) Biarlah yang muda-muda yang ikut, walaupun saya masih muda ha..ha..ha…
), namun juga karena saat ini saya banyak “bergaul” dengan putra-putri dari pelosok negeri ini…… yang entah mengapa, ketika saya membaca tulisan para pengajar-pengajar muda tersebut, ada hal-hal yang menyentuh dan saya jumpai pada putra-putri pelosok negeri ini yang saya ajar… dan saya pun terhanyut dalam kisah-kisah para pengajar muda tersebut.
Daerah perkebunan sawit dan perkebunan lain yang kebanyakan di area pelosok tanah air tak lepas dari sentuhan tangan-tangan para pengajar muda ini….. Memang dari segi umur dan pendidikan jauh berbeda…. Para pengajar muda ini mampu menginspirasi siswa-siswi sekolah dasar, sedangkan saya “berhadapan” dengan siswa yang telah lulus SMA/SMK/atapun Madrasah Aliyah. Tetapi kalau dari kondisi lingkungan dan keterbukaan dalam akses pemenuhan kebutuhan pendidikan yang memadai dan kemandirian dalam proses belajar serta “mimpi-mimpi” yang mampu memotivasi mereka untuk maju dan meraihnya, bisa saya rasakan “gap”nya…. Saya pribadi tidak tahu bagaimana mereka ketika SD dan SMP, kalaupun ada yang bercerita, ketika mereka SMA seringkali ada gurunya yang tidak pernah datang, seringkali pelajaran kosong, atapun tidak pernah belajar materi itu, meskipun itu adalah materi yang terdapat dalam kurikulum resmi yang digunakan oleh sekolah yang bersangkutan. Saya jadi berpikir dan mencoba memahami apa yang saya jalani sekarang ini.
Ketika masuk wilayah pendidikan tinggi, secara pribadi mereka memang tidak bisa dibandingkan dengan siswa-siswi SD yang semangatnya masih membara, tetapi saya percaya mereka pernah menjadi siswa sekolah dasar, mereka pernah punya “mimpi” dan mudah-mudahan “ mimpi-mimpi” mereka tidak hilang dan juga tidak luntur sejalan dengan bertambahnya usia dan wawasan kota yang konsumtif….. untuk tetap maju memperjuangkan kemajuan daerah mereka dan juga kemajuan Indonesia. Dan mengutip apa yang disampaikan Retno Widyastuti, Content Specialist di Yayasan Indonesia Mengajar, saya sangat berharap bahwa mereka belajar karena suatu kebutuhan, bukan suatu kewajiban ataupun paksaan dari pihak lain…. even more enjoy the learning process….
Dan seperti para pembaca lainnya, saya pun merasakan penuturan para pengajar muda pada tulisan-tulisan mereka sangat menginspirasi dan sangat mengesankan. Saya sepakat dengan sdr. Benny Setiawan yang dalam ulasannya menyampaikan bahwa “Melalui kisah-kisah yang termuat dalam buku ini, kita masih boleh yakin bahwa masa depan republik ini masih cerah.”




