Suara hati di tengah-tengah acara….

Image

Mencoba untuk tidak tunduh menjalani kegiatan pelatihan di siang hari setelah makan siang pada saat libur seperti hari sabtu sekarang ini…..🙂

Sebelah kiri saya…. matanya sudah 5 watt, kalau meminjam istilah yang sering dipakai kala mata ini sudah hampir mau menutup🙂

Sebelah kanan saya… udah ilang duluan. Agaknya ijin pulang tuh…. huh, gak ngajak-ngajak ha..ha..ha..

Jajaran dihadapan saya…..sudah pada sibuk dengan gadget-gadget yang ada dihadapannya (sepertisayasaatini dot com)😀

Lanjuuuutt….🙂

Jelang libur lebaran…..

Bismillahirrahmanirrahiiim….

Image

Ya Allah, Astagfirullahaladzim 3x…. Saya harus ikhlas… Insya Allah saya ikhlas….

Selang beberapa waktu, saya menerima email dari seorang “kawan”…. Saya baca satu persatu dan saya coba cermati apa yang tertulis… Sejenak saya mencari makna dan saya pun hanya menarik napas panjang… Entah apa yang ada dibenak si penulis. Awalnya saya berpikir, “mengapa demikian? Sepertinya tidak adil”…. Sejenak terdiam dan saya tidak mau menerka-nerka dan kemudian terhanyut didalamnya lebih jauh lagi…. Saya memutuskan untuk menerimanya dengan ikhlas…. Aamiin… Saya serahkan pada Sang Maha Adil karena memang saya sadari saya masih harus banyak belajar… Terimakasih ya Allah, karena hanya Engkau yang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, dan dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan, Aamiiin….

Kemudian terobati…..

Selang beberapa waktu pula…. Telepon “berdering” (bunyinya gak dering sih..he..he..🙂 )…. Aahh, kangen juga, setelah lama tidak bertemu….  Senang rasanya bisa berbincang-bincang dengan teman kebersamaan masa kuliah… Kalaupun gak bisa bukber bareng (salam ya teman-teman Bio’93, selamat berbuka puasa bersama) karena waktunya belum bisa pas antara bandung dan Jakarta/bekasi, kita janjian yaaaaa…. Ba’da lebaran🙂 Aamiin…. Saya undang ke rumah deh….🙂

Kemudian….

Telepon “bordering-dering” lagi…… kali ini dari Ananda tersayang,”Ibuuuu, kapan pulaaaaaaang?… Ini udah siang…”. Iya Nak… maaf ya sayang, rencana berubah…. Akhirnya saya pun menulis status di FB,”Aku ingin pulaaaaaaang”..he..he..he..….”ngono ngono ning ojo ngono to Pak, saiki wis wetune mulih e Pak…lha kok Bapak malah datang…” :p … huaaaaa….sabar, sabar,sabar…..

“Besok udah libur kok Nak, kita main”😀

Alhamdulillah…..yuk siap-siap pulang….. Monggooooo, selamat berlibur jelang Iedul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin….. Assalaamu’alaikum

Pas banged…. Sebuah pelajaran berharga :)

emotion-of-humanMenjadi bagian dari sebuah “komunitas” dimana kita adalah bagian “minoritas” memang bukan hal mudah…. Saya paham betul keterbatasan yang saya miliki, namun saya tetap mencoba berbuat dengan apa yang saya bisa dan saya pun belajar dari situasi tersebut…

Dalam suatu kehidupan dimana pun kita berada, tentu tidak semua orang sepakat 100% dengan setiap langkah kita, tetapi kita harus tetap yakin dengan apa yang kita lakukan…. Keyakinan itu akan selalu ada ketika kita melangkah dengan keikhlasan…. Apalagi jika kita bagian dari “minoritas” tersebut, maka akan ada hambatan dan suara tak sedap menyertai, cambuk itu akan selalu ada….

Seringkali kita temui orang-orang yang berbicara dengan mengangkat dada dan kepalanya, entah untuk mencoba menutupi apa yang pernah dilakukannya di masa silam, entah “tanpa pamrih”, kata salah seorang, atau setiap orang harus tau akan jasa-jasanya…… Tetapi untuk sebuah kerjasama, hitung-hitungan..he..he..  Apakah itu proses pembuktian diri untuk menunjukkan kehebatannya dan  menyiratkan bahwa kita tidak ada apa-apanya?  I have no comment🙂 Tetapi saya teringat apa yang pernah  disampaikan oleh rekan saya dalam suatu kesempatan, pas banged🙂 …..  [“Ada kalanya kita bertemu dengan orang, yang secara sadar atau tidak, merasa perlu untuk mengungkapkan kehebatan atau kelebihannya dan menyiratkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Dia mungkin benar. Tapi mungkin juga salah. Akan tetapi, ketika seseorang merasa perlu untuk selalu menunjukkan kehebatannya, sebenarnya dia sedang dalam keraguan tentang hal itu. Sejatinya, seseorang yang luar biasa tidak perlu pembuktian orang lain, cukup dengan apa yang ada pada dirinya. Karenanya, jangan pernah merasa berkecil hati ketika bertemu dengan orang seperti itu. Bagaimana mungkin kita berkecil hati terhadap orang yang belum merasa cukup dengan dirinya?” – by Della Tumenggung]

Kita harus selalu bisa berpikir jernih….. Jagalah hati dan jagalah pikiran kita. Semakin masuk kita kedalamnya, maka semakin jelas terlihat….. bahwa “ada udang dibalik setiap bakwan”…he..he..he.. Kita sendiri yang musti “waspada”, agar kita tidak tergolong orang yang, lain dimulut, lain dihati, lain lagi tindakannya, lain didepan lain dibelakang, dan hanya mementingkan diri sendiri….

Yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah pelajaran hidup yang sangat berharga. Setiap manusia tak luput dari kesalahan, begitu juga diri saya…. Kita memang harus sering introspeksi diri, itu resepnya….🙂 Seringkali dalam keadaan kepepet atau dalam proses pembuktian diri tadi, potensi untuk berbuat diluar integritas selalu ada, karena manusia tidak ada yang sempurna…. Mempertahankan integritas jauh lebih sulit, tetapi yakinlah dan konsistenlah, niscaya Allah akan selalu memberikan jalan yang terbaik buat mahlukNya. Bersyukurlah saya masih dikelilingi oleh keluarga, sahabat dan teman yang berhati bening dan berpikir jernih, “jagalah hati jangan kau nodai”, begitu katanya….. untuk selalu mengingatkan saya tentang keikhlasan, kerjakeras, konsistensi, berbuat dan berpikir baik  dan lain-lain yang positif…..bekerja dan berbuat dengan hati🙂 From the bottom of my heart, terimakasih yaaaa… God bless you all🙂

Beda “Perusahaan” Kaya dengan “Orang” Kaya

Saya senang membaca buku-buku dan tulisan-tulisan dari doktor yang satu ini. Dan kali ini ada lagi tulisan Dr. Rhenald Kasali yang sangat menggugah…. Dari sebuah milis, mari kita berproses…. selamat merenungkan🙂

Beda “Perusahaan” Kaya dengan “Orang” Kaya

Kata “Kaya” semakin banyak digunakan para motivator. Demikian juga buku-buku motivasi. Sayang sekali bila mereka menyamakan sukses dengan kaya, dan kaya adalah tujuan dalam melakukan apa saja, ya berwirausaha, ya berpolitik. Bahkan berbagi pun ditujukan agar mendapat imbalan, “kembalian yang lebih besar dari Allah”. Mari kita buka fakta-fakta berikut ini.

Kaya Raya, Banyak Harta
Ustad Jaya Komara,  tewas di sel tahanannya setelah ditangkap  2 bulan lalu di sebuah hotel melati di Purwakarta. Ustad Jaya adalah wirausaha sukses yang kaya raya.  Kekayaannya diduga polisi sebesar Rp. 6 trilyun, berasal dari 125.000 orang nasabah Koperasi Langit Biru. Caranya “sangat cerdas”, yaitu menawarkan cara cepat kaya dengan metode money game.  Menurut polisi, Ia memiliki banyak tanah dan sawah dan saat ditangkap sedang bersama istri mudanya.

Kedua, Inong Melinda Dee juga dikenal sebagai perempuan kaya saat bekerja di Citi Bank – Jakarta. Walaupun posisinya hanya Relationship Manager, ia bisa memiliki suami siri berusia baya dan membelikan mobil-mobil mewah (Ferrari Scuderia, Ferrari California dan Hummer) untuk suami barunya itu. Di luar, suami baru itu mengaku sukses  berwirausaha. Saya sempat heran  saat mendengar seorang “motivator” menyebutkan itulah bukti kerja cerdas.  Belakangan kita semua mengetahui, kekayaan itu hanya dapat diperoleh melalui jurus  membobol rekening nasabah Citibank. Malinda divonis 8 tahun penjara.

Orang kaya ketiga kasusnya juga tengah bergulir di pengadilan. Ia adalah perempuan terkaya Indonesia versi majalah Forbes (no 13). Tahun ini Forbes menobatkan suaminya sebagai orang kaya no 14 dengan kekayaan $1,5 miliar. Mereka berpindah-pindah partai politik, mengikuti siapa pemenangnya dan selalu menjadi elite partai. Saat ditangkap ia datang dengan kursi roda, mengaku sakit, dan menangis terisak-isak. Melihatnya saja miris. Publik pun terbelah, antara tidak percaya dan menyumpahinya. Saat dokter KPK memeriksa,  tak ditemukan gejala sakit, ia pun menjadi tahanan KPK. Orang yang sudah muak melihat korupsi di negri ini  bilang itu adalah akal-akalan koruptor yang selalu menghindar pemanggilan dengan berpura-pura sakit. Saya kira  tahu siapa yang saya maksud, Googling saja, ia adalah konglomerat yang gemar muncul di televisi.

Apa yang dapat kita pelajari dari fakta-fakta itu?  Semuanya berasal dari kegairahan tak terbatas mengejar kekayaan, banyak uang, lalu berkuasa. Orang seperti ini biasanya tak pernah puas. Seperti judul sebuah buku yang saya temui di seksi buku inspiratif yang berjudul “Kaya Raya, Banyak Istri Masuk Sorga”. Kalau sesuatu tak bisa dibeli, ya dirampas. Supaya jalan mulus, pejabat pun dibeli. Pensiunan orang kuat pun ditaruh dalam struktur organisasi. Semuanya dimulai dari niat awal seseorang berusaha atau berbuat. Ketika kewirausahaan bukan menjadi tujuan, melainkan alat, yaitu alat menjadi kaya, bacaan-bacaannya pun adalah buku jalan pintas yang ada kata-kata “kaya”nya. Mereka tak perlu tenaga ahli, yang diperlukan adalah orang yang mau menjalankan mau mereka.

Perusahaan Kaya
Sekarang mari  pelajari apa bedanya mereka  dengan  “perusahaan” kaya. Perusahaan mencerminkan karakter pembangunnya. Orang bisa saja kaya dari perusahaannya, tetapi  kaya bukanlah tujuannya. Kaya adalah akibat dari pemberian Tuhan,  kerja keras yang cerdas, disiplin diri dan tentu saja berasal dari kepercayaan.

Diantaranya  saya  menemukan perusahaan  yang orang-orangnya tidak dikenal sebagai pengusaha kaya. Nama mereka jarang disebut-sebut. Ambil saja contoh Astra Internasional Tbk yang pertengahan tahun ini mengumumkan keuntungannya ( 6 bulan pertama ) sebesar 9,7 trilyun rupiah dan memperkerjakan 176.000 orang karyawan. Kalau digabung dengan anak-anak peruahaannya, nilai kapitalisasi pasar Astra mencapai 14 % dari seluruh perusahaan yang tercatat di bursa efek Indonesia.

Di kantor Astra saya membaca tulisan ini: Per Aspera Ad Astra, mencapai bintang-bintang di langit memalui kerja keras. Tak ada kata kerja cerdas, kendati mereka terdiri dari orang-orang yang cerdas. Mereka tahu, kecerdasan hanya tumbuh di tangan orang-orang yang mau bekerja keras. Mereka belajar dari berbagai kesulitan. Dan kalau anda bertemu dengan “lulusan” Astra, anda akan mengerti apa yang membedakan mereka dengan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang sangat percaya pada proses, bukan jalan pintas.  Kalau prosesnya sudah benar, outputnya akan benar.

Pandangan Astra itu dituangkan dengan bagus oleh Tjahjadi Lukiman,”lulusan Astra” yang kini aktif di Triputra Group dalam bukunya, “Right Process will Bring Great Results”. Cara pandang ini berbeda dengan buku-buku jalan pintas  yang menjanjikan  seakan-akan ada cara mudah menjadi kaya, yaitu dengan berwirausaha cara cerdas, 2 menit sukses, tanpa modal, cara malas, cara kepepet dan seterusnya.  Kalau belum pernah membangun usaha besar sudah merasa besar, biasanya mereka  tak mengerti bahwa sukses tak semudah yang mereka ucapkan, juga tak pernah mereka pikirkan apa akibatnya bagi masa depan bangsa ini.

Bukti-bukti ilmiah menunjukkan kaya menuntut proses yang mendalam, dan membangun sebuah proses membutuhkan komitmen yang berarti persiapan (bukan kepepet), keberanian yang dipikirkan (bukan ngawur-ngawuran), sumberdaya yang dicari kiri dan kanan, tata nilai yang dijaga dengan teguh dan penuh kesadaran, membangun manusia menjadi kehebatan.  Dan kaya dalam bisnis berarti kaya pada harta-harta tak kelihatan (intangibles) seperti reputasi, ketrampilan, kejujuran, brand image, pengetahuan, hak paten, jaringan pemasaran, dan segala hal yang tak mungkin dicapai dalam sekejap.

Jadi kaya yang stabil itu bukan besarnya rumah, ukuran tanah, mobil atau perhiasan yang bisa dilihat orang.  Itulah yang membedakan Astra dengan orang-orang kaya yang saya sebut di atas. Anak-anak muda tinggal memilih, ingin cepat  kaya tetapi labil dan berpotensi masuk penjara, atau membangun perusahaan yang kaya dan dihormati banyak orang.  Kalau pilihan jatuh pada yang kedua, bersusah-susahlah dahulu, jaga nama baik dan integritas,  dan  berproseslah

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

100%

Kemarin saya sempat menulis status di FB “masak berangkat jam 6.30 sampe jam segini belum nyampe’?…. Ke-Ter-la-lu-an, huh😦 Wahai sang Bupati, sering turun gunung dong… Lihat, kemacetan mengurangi produktivitas…”. Duduk manis di kendaraan akibat macet selama +/- 2,5 jam, menunggu untuk bisa menyeberangi jembatan, adalah hal yang “serius”…. serius membosankan, SueerR….😀 (kalo di TV ada tulisan “Adegan membosankan, Jangan Di Tiru”😀 heheheee…..). Keruwetan di jembatan ini memang sudah sejak lama berlangsung, walaupun gak tiap hari…. tapi seringlah, amat sering…… Namun sayangnya “pemerintahan” setempat tidak tampak adanya usaha untuk mencari solusi keruwetan tersebut….. Sepertinya masyarakat pada saat keruwetan itu terjadi dibiarkan atau dipaksa “menikmati” keruwetan itu, dan ketika tidak ada keruwetan, dianggap aman…. Tidak ada usaha untuk mencegah agar tidak terjadi keruwetan yang sering terjadi tersebut…… Di anggap jadi hal biasa jadinya….fiuuhh, bahaya nih….  Seperti Pak Dahlan Iskan bilang, logikanya sudah tidak benar…. Ketika jalanan lancar, pintu tol semua dibuka, tetapi ketika macet, kok malah hanya sebagian yang dibuka… knp gak dicari solusi supaya antriannya tidak panjang….dianggap biasa fiuuuhhh….. mana tol mo naik lagi😦 huhuhuuuu…… loh kok jadi tol…he..he… opo to iki🙂

Kisah selanjutnya belum selesai, banyak hal-hal yang mengejutkan…. Status 100% itu biasanya sangat disenangi…. Diskon 100%, pasti senang, lha wong gratis hehe…. 100% halal juga dicari-cari, mulai dari produsen makanan sampai konsumennya…. 100% dari kopi asli (emang ada kopi palsu ya???😀 ), 100% aktif dalam organisasi, waaahhh…. Hebat-hebat, walaupun belum tentu aktif benar, kadang-kadang cuma ngintil temen-temennya😀  “Sempurna! 100% TOP!” kalau hasil karyanya bagus, semua pihak senang, si pembuat karya dan si penikmat karya sama-sama mengagumi karyanya, harga jual pun menjadi lebih tinggi… 100% terbuat dari bahan alami, saat ini banyak dicari-cari, back to nature… Bahan non-alami mulai ditinggalkan…. 100% dari bahan katun, hmmm, pasti enak dipakai nih kaos, begitu juga dengan sprei….enak adem… bisa tidur maniz🙂 …. Uploading, downloading, hingga 100% itu hal yang ditunggu-tunggu bagi yang gemar meng-upload dan mengunduh….. 100% terserap kerja, banyak iklan pendidikan di Koran yang menjanjikan selesai kuliah pasti langsung kerja… 100% lulus, cap jempol, sekolah idaman pasti, karena sudah pasti lulus….

100% angka yang mujarab untuk memastikan bahwa semua yang terjadi pasti baik dan akan baik-baik saja dan meyakinkan bahwa 100% itu nikmat, semua senang, semua happy….  Saya pun turut senang dan saya yakin setiap insan yang andil di pendidikan, semua bisa lulus tepat waktu dengan hasil yang baik, tentu menjadi dambaan.. ya dambaan setiap kantong pendidikan. Tapi bagi saya dan teman-teman yang sejalan meyakini bahwa proses untuk mencapai angka itu tidak sesederhana itu…. Di atas angka itu ada tanggung jawab yang tidak bisa dilepaskan begitu saja…. Diskon 100% pasti ada hitung-hitungannya, tidak mungkin seorang pedagang memberi gratis begitu saja, tanpa ada keuntungan jangka panjang… Juga 100% halal, ada tanggungjawab besar disana, agar makanan yang diproduksi memang benar-benar halal, mulai dari bahannya dan juga prosesnya, bukan hanya selembar kertas hasil uji sampel, tetapi produksi jangka panjang yang halal tentu harus dikelola dengan baik… balasan Allah langsung tuh, kalo ternyata tidak halal…😀 Demikian juga dengan 100% dan 100% yang lainnya…. Dalam bidang pendidikan, memastikan bahwa tidak hanya sekedar lulus atau “diluluskan”, tetapi menghadirkan lulusan yang memang layak untuk di pertanggungjawabkan sangatlah tidak mudah… Kalau sebagian pihak mencoba membuat sebuah proses menjadi tidak sejalan, karena ada “pesan-pesan sponsor”, waallahuallam…  Tapi, hal yang tetap harus di pegang sebagai “bagian” dari proses pendidikan, menjunjung tinggi kebenaran dan terus berusaha melakukan yang terbaik tanpa kenal lelah, tidaklah bisa ditawar-tawar.

Lagi, proses pembelajaran yang “dahsyat”……  setidaknya buat saya, agar lebih jernih dan lebih bijak dalam “melangkah”, sehingga di kemudian hari  menjadi lebih baik🙂 Amin.

“Ya Allah, berkati keluarga kami, pekerjaan kami, dan hidup kami, bimbinglah kami agar senantiasa berada di atas jalan yang benar dan membahagiakan”. Amin.

Pertemuan itu…..

Dalam sebuah pertemuan yang sudah diawali dengan maksud dan tujuan yang pasti akan pertemuan itu, tentu ada hal-hal yang diharapkan, tentu dari para peserta pertemuan itu….. Kalaupun akhirnya pada pertemuan itu,  ada hal-hal yang “mungkin” kurang  sesuai yang diharapkan….. itu adalah realitas. Apakah ekspektasinya yang terlalu tinggi? Enggak lah…. yang sedang-sedang saja (dangdut kaleeee)😀

Menerima dengan tangan terbuka jika ada seseorang yang bergabung dalam suatu organisasi, tentunya akan disambut dengan gembira… apalagi jika mereka yang bergabung dirasa bisa membawa suatu perubahan yang berarti…. tentu saja perubahan yang positif, apalagi jika seseorang itu dianggap mumpuni karena pengalamannya yang pas.  Sayangnya, pada pertemuan itu sambutan selamat datang seperti dibuat sedemikian rupa sehingga proses penerimaannya diselubungkan…. Astagfirullahaladzim, setidaknya itu yang saya rasakan sebagai peserta. Mungkin apa yang saya rasakan itu salah, tapi begitulah adanya….

Ketika seseorang diangkat sebagai seorang pemimpin, tentunya ia pun faham (gak semua pastinya ya???!!  hehe) bahwa suatu jabatan itu adalah suatu amanah…dan sifatnya sementara… Jabatan dunia itu bukan jabatan abadi, berbeda dengan jabatan seorang manusia sebagai seorang ayah atau ibu atau anak. Apa sebenarnya yang membuat seseorang dengan sangat berat sekali melepaskan jabatannya? Tentu hanya yang bersangkutan yang bisa menjawab…. kalau diluar yang bersangkutan tentu hanya bisa menduga-duga😀

Alhamdulillah, masih ada hal-hal yang menarik pada pertemuan itu. Ada arahan-arahan yang salah satu pimpinan dan hal-hal yang disampaikan sangatlah menggugah…. Seringkali saking terlarutnya dengan irama rutinitas, wawasan-wawasan itu sangatlah diperlukan….. untuk membuka alam pikiran kita, sehingga tidak terkungkung pada yang itu-itu aja…he..he… he….  Beberapa poin disampaikan…… Budi pekerti dan pembentukan karakter.  Moralitas yang baik haruslah tetap dijunjung tinggi. Kejujuran, tanggungjawab, saling menghargai dan menghormati, sopan-santun, kerja keras haruslah menjadi karakter bangsa ini…. Bahkan inovasi dan teknologi harus kita gairahkan….. Jangan sampai kita terlena oleh anugerah alam yang ramah, namun akhirnya tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri….. bahwa sebagai manusia kita harus senantiasa belajar dan mengikat makna dari sekeliling kita….. Lihatlah sekitar kita, Lihatlah apa yang terjadi di luar sana…… cobalah untuk berbuat sesuatu untuk kemajuan tanpa melupakan akar diri kita, darimana dan dimana kita berasal dan hidup….. Itulah yang membuat kita menjadi manusia, manusia yang utuh….

Satu pembelajaran…. at least for me…. “save the dream and make it real” hehe…🙂

menata emoticons..he..he..

Bangun pagi bisa saja menyenangkan bisa juga tidak menyenangkan…. Tapi di saat bangun pagi itulah saat yang tepat untuk menentukan apakah hari yang akan kita lalui menyenangkan atau tidak… Kalau kita memilih bahwa kita akan melewati hari ini dengan menyenangkan, Insya Allah, membahagiakan. Amin. Alhamdulillah … Melihat kiri kanan, sayang-sayangku masih pada terpejam matanya, karena matahari memang belum memperlihatkan senyumnya…  saya pun tersenyum :) dan berdoa semoga Allah memudahkan segala urusan atas diriku, keluargaku dan agamaku. Amin amin amin ya rabbalalamin🙂

Beberapa hari ini saya selalu dihadapi oleh orang yang lagi bad mood…. Mungkin pikirannya yang lagi kusut atau hatinya yang lagi kalut…..entahlah :(  Yang jelas, karena kondisinya mengharuskan saya berinteraksi dengannya, maka saya menetapkan untuk tidak terpengaruh oleh moodnya yang tidak baik itu. Bagaimana mungkin, kita (karena ternyata tidak hanya saya yang di beri muka jelek :)) sudah berusaha untuk berbuat manis..he..he.. tapi tetap saja, ketus ketus dan ketus dan keberatan untuk diajak kerjasama, padahal itu memang kerjaannya dia… Berusaha tidak menggubris ketidak-mood-annya karena harus menyelesaikan pekerjaan, tetapi dia tidak berperilaku baik…  Menghadapi orang yang bad mood seperti itu salah-salah kita malah  bisa jadi emosi ;(  sabar, sabar, sabar….. :) Alhamdulillah, tidak terpancing…he..he…

Apa yang anda lakukan jika diri anda sedang not in the mood?

What do you do to cool your brain, bless your heart and brighten your day? 

Kalau sedang lagi tidak mood, saya biasanya lebih banyak melakukan hal-hal yang saya sangat sukai, yang menjadi hobi saya sehingga saya bisa menata kembali pikiran dan hati saya…. Sehingga semua nuansa-nuansa yang negatif hinggap di saya menjadi positif… Alhamdulillah, kalau bad mood saya tidak pernah lama-lama…. Salah satu contohnya adalah dengan menata pikiran dan hati melalui membaca dan menulis atau bergabung dengan orang-orang yang positif…… Suatu hari saya dihadapkan dengan situasi yang sangat tidak menyenangkan… dan saya berusaha segera menaruh pikiran dan hati saya pada posisi yang Insya Allah tepat… Alhamdulillah, baik.

Bagaimana dengan Anda?🙂

Semoga yang bad mood-bad mood itu gak bad mood terus..he..he..he.. Pagi ini cukup oke lah…. mudah2an tidak mudah bad mood lagi…he..he..he..

Pada suatu pagi dan sore yang dingin (abis ujan soalnya)….. Ooo si-hitam-ku, sembuhlah sayang… Sulit  beredar tanpa dirimu…. banyak yang ingin kukunjungi….  Terimakasih teman sudah membantu hingga saya gak harus bad mood karena harus berpisah sementara dengan si hitam…

Salam good mood🙂